Teguran

Beberapa minggu yang lalu saya diingatkan lagi, apapun yang kita inginkan tetap ditentukan oleh Allah SWT, sejauh dan sematang apapun kita merencanakan sesuatu.

Bulan ini saya mengalami beberapa kejadian yang menurut saya ini adalah bentuk peringatan untuk selalu bersyukur dengan apapun yang saya miliki.

2 minggu lalu saya pulang ke rumah, hal biasa yang saya lakukan ketika weekend tiba. Saya sangat tidak sanggup untuk menghabiskan weekend di tempat saya bekerja sekarang, walaupun secara konsep dan definisi BPS saya adalah penduduk di Kabupaten yang kurang lebih 15 bulan saya tempati.

Hari itu, hari minggu saya mengunjungi teman saya, untuk sekedar mendengar curhatan dan berbagi cerita, apalagi dia baru saja ditinggalkan oleh Ayahnya yang menjadi panutan dan pelindungnya. Setalah dari situ saya telah berencana akan pergi ke mall yang ada di Kendari. Saya ke mall di jemput oleh kakak laki-laki saya yang juga berencana keluar untuk membeli mainan buat anaknya. Pas saya masuk mobil, kakak saya kehilangan dompet, terus saya celetuk “kurang sedekah tuh”. Trus kakak saya nanya “memang kamu sedekah terus?” dan betapa riyanya saya, saya bilang “ya dong tiap bulan dong”. Belum sejam dari keriyaan saya saya mendapat musibah dengan hancur lebur hape saya karena terjatuh di tempat wudhu di mall tersebut, mau tidak mau saya harus mengganti LCD hape saya, yang menurut saya yang lumayan menyerang dompet biaya perbaikannya. Dari kejadian itu saya bisa mengambil kesimpulan bahwa stop riya, Allah bisa mengambil haknya dari segi manapun.

Masih dihari yang sama, ketika kakak saya mengantarkan ponakan saya ke dokter, mobilnya mogok ditengah jalan, kemudian kakak laki-laki saya pergi menjemput kakak saya dengan membawa mobil carteran (maklum di rumah cum ada satu mobil). Ternyata menurut supir mobil yang kakak laki-laki saya bawa untuk menjemput kakak saya adalah aki mobil rusak, dan sang opir mendesak untuk segera membeli aki mobil jam 9 malam, intinya kakak saya harus mengeluarkan uang sekitar 700 ribu. Menurut spekulasi kami semua, bukan akinya yag salah karena mobil ini masih setahunan, belum pantas untuk ganti aki. Kemudian saya berujar “wah cari duit tuh sopir biar bisa dipake tenaganya bayar lagi”. Kakak ;aki-lakinya saya kemudian beceletuk “anggap sedekah, toh di dalam rejeki kita ada sebagian hak orang lain”. Saya langsung bengong, wah kakak saya hebat, saya langsung berpikir kejadian siang hari, saya mnggemborkan diri bahwa saya telah melakukan sedekah tiap bulan, mungkin iya, tapi riya bisa mengurangi pahala sedekah itu, toh kakak saya juga sedekah diberbagai banyak kesempatan.

Dalam hati, ya Allah berikan saya satu lelaki yang baik, yang sabar, yang pekerja keras, yang bijaksana seperti kakak-kakak saya. 

Intinya jangan padang remeh seseorang, dan jangan menggangap diri sendiri adalah superior, makasih ya Allah, memberikan saya kesempatan dilahirkan dalam keluarga yang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s